25 November 2012

Pendidikan Sejak Dini

Sejak kecil kita sudah disekolahkan orang tua, bahkan kita sudah menjalani pendidikan sejak dini dalam kandungan ibu. Ibu selalu mengelus perutnya manakala kita bergerak-gerak dan menimbulkan perubahan bentuk perut ibu yang membenjol. Entah karena apa, kita bergerak-gerak dalam perut, tetapi isyarat dari ibu berupa elusan perut rupanya tertangkap oleh kita sang bayi sehingga bayi menjadi diam. Ini pelajaran “sabar” pertama yang sampai kepada kita sejak diri saat  menjadi bayi.

Tanggung jawab mulai timbul pada diri si kecilyang telah menerima tugas dari sekolah berupa jam masuk sekolah yang harus ditaati, mulai pelajaran dan sampai sekolah usai, belum lagi berbagai tugas rumah atau PR yang harus dikerjakan. Kebersihan juga diajarkan, bagaimana kita memotong kuku dan merapikan diri, memotong rambut dan berpakaian yang rapi.

Pendidikan bukanlah hal yang instant, atau cepat saji. Pendidikan harus dilakukan secara berkesinambungan dan dilakukan sedari dini. Hasil yang didapat adalah individu-individu yang berpribadi kuat dan tekun untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Orang tua yang sadar akan pentingnya anak menjadi mandiri akan memberikan kesempatan bagi si anak untuk belajar menyelesaikan tugasnya sendiri dengan memberi arahan, tetapi tidak dengan mengambil alih tugas itu sendiri.

Tentunya tugas dan kewajiban yang harus diberikan kepada anak haruslah sesuai dengan perkembangan kematangan jiwa dan juga fisik si anak. Artinya, tugas kewajiban yang diberikan  menjadi semakin kompleks disesuaikan dengan fisik, jiwa bahkan lingkungan yang mendukung.

Anak yang terlatih akan berkembang menjadi matang pada waktunya, sesuai dengan tolok ukur yang telah disepakati oleh ahli pendidikan.  Seorang anak meskipun bisa mengerjakan mencari uang tetap tidak diperbolehkan melakukannya karena ini menyalahi kodrat sang anak yang masih harus menggeluti dunia anak yaitu belajar dan bermain. Jika ini terjadi maka si anak akan terampas dunianya dan menjadi pribadi yang kurang sempurna, karena kurang bisa memahami dunia anaknya kelak, karena ada kecenderungan pribadi seperti ini meng copy atau mengulangkan apa yang dialami kepada anaknya.

Ternyata dunia pendidikan sangat tidak bergantung kepada pendidikan di sekolah saja. Dunia pendidikan yang riil adalah pendidikan di masyarakat, yang jauh lebih kompleks. Di dunia pendidikan akademis lebih banyak mengasah kepada kecerdasan IQ (Intelligence of Quotient), sedangkan pendidikan di masyarakat banyak menggeluti EQ (Emotional of Quotient) bahkan SQ(Spiritual of Quotient).

Melatih anak cepat menghitung adalah bagian IQ, serta melatih anak menyampaikan pendapat, gagasan adalah bagian dari EQ. Mengenalkan anak pada sang Khaliq adalah SQ.
Marilah kita didik anak-anak sedari dini.


sumber : http://edukasi.kompasiana.com

0 komentar:

Poskan Komentar